Ada seorang pemuda gagah yang turut berjihad bersama pasukan Islam.
Selama perjalanan, pemuda itu tetap berpuasa di siang hari dan tak lepas
dari sholat di malam hari. Bahkan dia juga melayani kebutuhan pasukan
dan ikut berjaga-jaga bila semua tidur. Hingga sampailah pasukan itu
sampai di perbatasan Romawi.
Menjelang pertempuran, pasukan Islam beristirahat di suatu tempat. Karena lelah pemuda itu jatuh tertidur. Namun tiba-tiba ia terjaga dan berseru lirih, “Ah, alangkah rindunya aku pada Ainul Mardhiyah”. Orang-orang yang mendengarnya terheran-heran dan mengira pemuda itu mengingau. “Siapakah Ainul Mardhiyah itu ?” tanya Abdul Wahid, seorang ulama pejuang, yang mengenal pemuda itu.
Menjelang pertempuran, pasukan Islam beristirahat di suatu tempat. Karena lelah pemuda itu jatuh tertidur. Namun tiba-tiba ia terjaga dan berseru lirih, “Ah, alangkah rindunya aku pada Ainul Mardhiyah”. Orang-orang yang mendengarnya terheran-heran dan mengira pemuda itu mengingau. “Siapakah Ainul Mardhiyah itu ?” tanya Abdul Wahid, seorang ulama pejuang, yang mengenal pemuda itu.




